Opini

HIPMA-KT Goes to School 2026 : Januari Momentum jembatani Siswa Kutim Mengenal Dunia Kampus

363
×

HIPMA-KT Goes to School 2026 : Januari Momentum jembatani Siswa Kutim Mengenal Dunia Kampus

Sebarkan artikel ini

Opini, PotretRepublik.Com — Januari merupakan momen berulang setiap tahun, tapi sering luput dimaksimalkan, oleh sebagian orang. Di Kutai Timur, Januari bukan cuma penanda tahun baru, tapi juga tradisi pulangnya mahasiswa ke kampung halaman karena libur semester. Di saat yang sama, siswa sudah kembali sekolah, mulai 5 Januari. Titik temu ini harus dibaca oleh HIPMA-KT (Himpunan Pelajar dan Mahasiswa Kutai Timur) sebagai peluang untuk menghadirkan program yang dekat, relevan, dan terasa langsung manfaatnya: HIPMA-KT Goes to School (GTS) 2026.

GTS adalah agenda tahunan HIPMA-KT yang digelar setiap Januari. Program ini menghadirkan mahasiswa Kutai Timur untuk kembali ke sekolah masing-masing dan berbagi pengalaman tentang “dunia setelah sekolah”mulai dari gambaran kehidupan kuliah, adaptasi merantau, sampai hal-hal praktis yang sering bikin siswa kelas XII bingung di ujung masa sekolah.

“Momentum ini pas banget. Mahasiswa lagi banyak yang libur dan pulang, sementara adik-adik sudah masuk sekolah. Jadi GTS bisa jadi tempat mengajak adik-adik lebih kenal dunia setelah sekolah,” kata Rahmat Khadir Jayadi, Kepala Bidang Pengkajian dan Pengembangan Anggota serta Aparat Organisasi HIPMA-KT, yang akrab disapa Khadir.

Fokus Sangatta, tapi Terbuka untuk Seluruh Kutai TimurKarena HIPMA-KT baru “hidup kembali” dan sedang menguatkan ritme organisasi, pelaksanaan GTS 2026 diprioritaskan di Sangatta Utara dan Sangatta Selatan. Namun HIPMA-KT menegaskan program tetap terbuka untuk seluruh kecamatan di Kutai Timur.

Di atas kertas, GTS 2026 dirancang bisa berjalan mulai 5 Januari 2026 hingga sekitar dua pekan setelahnya. Waktunya memang realistis: setelah dua minggu, banyak mahasiswa kembali merantau ke kota kuliah masing-masing.

Pola SDM Pusat Menyediakan, Wilayah MenjalankanMenariknya, cara kerja GTS tahun ini tidak dibuat terlalu rumit. HIPMA-KT memulai dari hal yang paling krusial: menentukan koordinator wilayah per kecamatan. Setelah itu, koordinator wilayah diberi ruang untuk mengatur teknis di lapangan—siapa koordinator sekolah, konsep penyampaian, hingga kolaborasi yang mungkin dilakukan.

“Kami tentukan koordinator wilayah kecamatannya terlebih dahulu. Selebihnya koordinator wilayah yang mengatur teknik kegiatan. Pusat menyiapkan akomodasi spanduk, konsumsi, dan bahan materi,” jelas Khadir.

Prinsipnya sederhana: GTS bisa jalan bahkan bila hanya ada satu relawan yang siap dan mampu turun. Tetapi antusiasme relawan sudah terlihat, terutama di Sangatta. Tercatat sekitar 40 relawan telah mendaftar untuk wilayah Sangatta, sementara kecamatan lain masih terus bertambah.

Relawan Tanpa Syarat Ribet, yang Penting Mau BerbagiSoal kriteria relawan, HIPMA-KT tidak menutup pintu dengan persyaratan yang “kaku”. Khadir menekankan bahwa program ini lebih membutuhkan niat berbagi dan kepekaan sosial, karena pembekalan tetap disiapkan sebelum relawan benar-benar turun ke sekolah.

Perekrutan dilakukan melalui Google Form yang disebarkan via media sosial dan jaringan 9 cabang HIPMA-KT di berbagai kota. Setelah itu, relawan akan mendapat pembekalan sekaligus menjadi penanda resmi dimulainya program kerja GTS 2026.Materi yang dibawa juga dibuat relevan dan “dekat” dengan kebutuhan siswa: pengenalan HIPMA-KT, gambaran kuliah, serta apa saja dukungan yang bisa diberikan HIPMA-KT—termasuk informasi fasilitas cabang, misalnya cabang yang memiliki asrama putra dan putri.

Untuk teknis pelaksanaan di sekolah, HIPMA-KT memberi keleluasaan: bisa masuk ke kelas-kelas yang kosong atau dikumpulkan dalam satu aula. Intinya, format menyesuaikan situasi sekolah dan kesepakatan tim setempat.

Kenapa GTS Penting? Karena Banyak Siswa Butuh “Peta”Opini saya sebagai jurnalis yang mengikuti gerak komunitas pemuda daerah: program seperti HIPMA-KT Goes to School bukan sekadar “kunjungan alumni”. Di banyak daerah, siswa kelas XII sering berada pada fase paling rentan: ingin lanjut kuliah, tapi tidak punya cukup informasi, ragu memilih jurusan, bingung soal biaya, atau tidak punya ruang bertanya yang nyaman.

GTS, ketika dijalankan dengan rapi dan konsisten, bisa menjadi jembatan yang manusiawi. Siswa tidak sekadar mendengar teori dari brosur kampus, melainkan cerita nyata dari kakak-kakak mereka sendiri—yang beberapa tahun lalu duduk di bangku sekolah yang sama.

Dan yang juga penting: GTS tidak berhenti saat sesi di sekolah selesai. HIPMA-KT menyiapkan tindak lanjut berupa komunitas WhatsApp agar siswa bisa terus bertanya tentang dunia kampus dan terhubung dengan mahasiswa di kota tujuan yang sama. Ini langkah kecil, tapi efeknya bisa panjang—karena dukungan saat transisi ke dunia kuliah sering kali menjadi pembeda.

GTS Juga Ruang Tumbuh untuk Mahasiswa KutimKalau siswa mendapat peta, maka mahasiswa relawan mendapat ruang latihan. Khadir menyebut GTS sebagai wadah untuk mengasah public speaking, keberanian, dan kepekaan sosial—tiga hal yang sering dicari dunia kerja dan organisasi, tapi tidak selalu didapat di kelas.

“Mahasiswa perlu wadah untuk mengasah skill public speaking, keberanian, dan kepekaan sosial. Mumpung ada wadah GTS ini, mari bersama-sama kembali ke sekolah untuk sama-sama bangun daerah,” Di tengah isu besar soal kualitas SDM daerah, HIPMA-KT memilih jalur yang konkret: turun ke sekolah, bicara langsung, dan membuka jejaring. Jika ini dijaga konsistensinya, HIPMA-KT Goes to School bukan hanya “rame di Januari”, tapi benar-benar jadi tradisi baru Kutai Timur

Penulis ||Rahmat khaidir jayadi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *